Sejarah

Mentawir berasal dari kata Mentawar/Menawar yang berarti penawar untuk suatu penyakit yang pada waktu penjajahan Belanda mewabah sejenis penyakit cacar, dan air untuk mengobati penyakit tersebut berasal dari Mentawir I. (Tempadung Hambar) yang penduduknya adalah suku pasir balik.
Awal dari keberadaan Kelurahan Mentawir berasal dari terbentuknya pemerintahan kepala kampung yang bernama Demang Petinggi Daeng Pattara Marga Setya pada tahun 1910 dan pada pemerintahan Sultan Parikesit berubah nama menjadi Mentawir, yang wilayah kekuasaannya terbagi menjadi 2 bagian.
Mentawir I terletak di Tempadung Hambar dan Mentawir II yang merupakan wilayah Kelurahan Mentawir yang sekarang
Pada masa Demang Pattara mayoritas penduduk suku Pasir Balik adalah penganut animisme yang menyembah patung dan salah satu bukti sejarahnya adanya patung berbentuk manusia yang ada di Payo Rai.
Dan pada tahun 1920 seluruh masyarakat Pasir Balik yang berada di Kelurahan Mentawir berjumlah 83 orang berpindah ke agama islam. Yang menyebarkan agama islam di Mentawir adalah Suku Bugin Bone yang datang dari Kota Baru dan imamnya pada waktu itu adalah H. Abdul Gani

Silsilah Kepala Kelurahan

Bustani

Kepala Kelurahan Periode
1981 - 2004

Risman Abdul, S.Sos

Kepala Kelurahan Periode
2004 - 2007

Waluyo, S.Sos

Kepala Kelurahan Periode
2007 - 2012

Ari Rahayu

Kepala Kelurahan Periode
2012 - 2017

Yamani

Kepala Kelurahan Periode
2017 - 2021

Nelva Susanti

Kepala Kelurahan Periode
2022